Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2013

Apakah itu Kue?

Mungkin hanya sebagian dari manusia yang pernah memikirkan tentang kue secara hakikat keberadaannya. Berikut beberapa pemikiran tentang kue yang mungkin mampu membuka pemikiran-pemikiran baru tentang kue itu sendiri.
  1. Sebuah kue dipotong 4, kemudian dipisahkan satu sama lain. Apakah kue-kue yang terpisah itu masih disebut kue? Atau potongan-potongan kue?
  2. Seandainya kue memiliki sistem saraf, apakah kue akan bergerak-gerak ketika dipotong?
  3. Meski terbuat dari bahan yang sama persis, ketika suatu adonan dimasak dengan beberapa cara yang berbeda maka akan menghasilkan beberapa kue yang berbeda pula.
  4. Kue identik dengan rasa manis, maka akan terasa aneh jika ada daging ayam di dalam sebuah kue, apalagi jika kue itu tetap terasa manis.
  5. Ketika rainbow cake direndam di dalam air, maka warna airnya akan berubah menjadi berwarna-warni dan berakhir menjadi warna hitam kecoklatan.
  6. Tidak ada kue yang berwarna benar-benar putih dan tidak ada kue yang berwarna benar-benar hitam.

Sesungguhnya hal-hal yang terjadi pada kue di atas merupakan kalimat-kalimat ambigu. Semoga Anda cukup bijak untuk memaknainya.

Membahasakan Angka: 1 / ¼ = ¼



Secara matematis, 1 / ¼ memiliki nilai yang berbeda dengan  ¼. Berdasarkan perhitungan, 1 / ¼ = 4, sedangkan  ¼ = 0,25. Namun jika diperhatikan lebih mendalam, kedua bilangan tersebut berjumlah sama. 

Untuk lebih mudahnya, perhatikan simulasi berikut:

Kasus 1: Terdapat sebuah kue besar, ketika kue tersebut dipotong sedemikian hingga setiap bagiannya berukuran seperempat dari ukuran semula, maka akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.

Kasus 2: Terdapat sebuah kue besar,kemudian kue tersebut dipotong menjadi 4 bagian. Akhirnya akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.

Berdasarkan kedua kasus diatas, keduanya memiliki perhitungan matematis yang berbeda namun menghasilkan jumlah objek yang sama. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa 1 / ¼ = ¼.

Selasa, 19 Maret 2013

Membahasakan Angka: Teori Fungsi Relatif Kata “Berapa” dan “Beberapa”


Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, “berapa” memiliki makna sebagai kata tanya untuk menanyakan bilangan yg mewakili jumlah, ukuran, nilai, harga, satuan, waktu. Sedangkan kata “beberapa” memiliki makna sebagai jumlah yg tidak tentu banyaknya (bilangan lebih dari dua, tetapi tidak banyak. Kedua kata tersebut memiliki kesamaan yakni berhubungan dengan jumlah, tetapi berbeda tentang bentuk dan fungsinya. Kata “berapa” berfungsi sebagai kata tanya jumlah dan kata “beberapa” berfungsi sebagai kata keterangan jumlah yang abstrak.


Namun ketika dicermati lebih mendalam, kedua kata tersebut akan memiliki fungsi yang sama pada suatu konteks kalimat tertentu. Kata “berapa” yang merupakan kata tanya jumlah dapat difungsikan sebagai kata keterangan jumlah selayaknya kata “beberapa” pada konteks kalimat yang sama. Sebagai contoh untuk memudahkan teori ini, perhatikanlah dialog di bawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama beberapa hari.


Dalam dialaog diatas, kata “beberapa” berfungsi untuk menunjukan keterangan jumlah hari yang lebih dari dua tetapi tidak banyak. Apabila dalam dialaog diatas, kata “beberapa” diasumsikan sebagai “4 hari”, maka kata “beberapa” dalam dialog diatas bisa diganti dengan kata “berapa”. Penjelasan lebih lanjut perhatikan contoh di bawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 hari.


Secara matematis, hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 ditulis dengan √25 – 1 yang hasilnya sama dengan 4, dimana sebelumnya 4 diasumsikan sebagai kata “beberapa”.



Adapun perubahan fungsi kata “berapa” menjadi kata keterangan jumlah terletak pada respon normal seseorang ketika dihadapkan pada pernyataan asumsi matematis yakni “hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1”. Perhatikan simulasi dibawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 hari.


A : Berapa? (mengacu pada pernyataan “hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1”).


Pertanyaan “Berapa?” yang menjadi respon normal tersebut selalu identik dengan pernyataan asumsi matematis yang diucapkan sebelumnya. Sehingga, asumsi matematis dapat diganti dengan kalimat “berapa”. Hasil akhir dari perubahan fungsi kata ini adalah sebagai berikut:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama berapa hari.


Contoh lain dari penggunaan fungsi relatif kata adalah sebagai berikut:


A : Sudah berapa hari aku tidak bertemu denganmu. (kata berapa hari bisa mengacu pada asumsi matematis 21/7 hari)

Minggu, 17 Maret 2013

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan


Bangsa Indonesia memiliki sejarah perjuangan yang panjang mulai dari era sebelum dan selama penjajahan, era mempertahankan kemerdekaan hingga era mengisi kemerdekaan. Setiap era memilikki kondisi dan tuntutan yang berbeda namun dapat dipenuhi dengan adanya kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat kebangsaan. 

Semangat perjuangan bangsa merupakan kekuatan mental yang mampu melahirkan sikap dan tindakan heroik dan ptriotik serta menumbuhkan kekuatan, kesanggupan dan kemauan yang luar biasa. Selain itu, semangat perjuangan bangsa digunakan sebagai acuan dalam memecahkan permasalahan dalam bermasyarakat, berbangasa dan bernegara. Semangat perjuangan bangsa ini harus dimiliki oleh setiap warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seiring perjalanan waktu dan modernisasi segala aspek kehidupan, semangat perjuanagn bangsa sedikit demi sedikit terus terkikis. Globalisasi yang identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang transportasi, komunikasi, serta akses informasi yang cepat dan tanpa batas membuat dunia menjadi satu. Segala bentuk pengaruh lembaga internasional beserta sistem politik, hukum, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan dunia dapat diserap dengan mudah oleh masyarakat Indonesia. Kondisi tersebu takan berpengaruh pada pola pikir, sikap, dan tindakan masyarakat Indonesia yang kemudian hal tersebut akan berpengaruh pula pada struktur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya kondisi tersebut akan mengubah semangat perjuangan bangsa.

Semangat perjuangan bangsa pada era penjajahan telah menghasilkan perjuangan fisik yang luar biasa dalam menghadapi negara penjajah yang datang ke Indonesia. Di era globalisasi, semangat perjuanagan bangsa idealnya menghasilkan perjuangan non-fisik atau bersifat mental dimana setiap orang memililki kesadaran untuk membatasi diri dari pengaruh buruk globalisasi dan tetap melestarikan kesadaran bernegara serta bersikap cinta tanah air.

Jika perjuangan fisik dilakukan dengan melawan penjajah, maka perjuangan non-fisik dilakukan sesuai dengan porsi dan profesi masing-masing dari setiap rakyat Indonesia. Perjuangan non-fisik yang dilakukan sesuai dengan bidang profesi masing-masing memerlukan sarana kegiatan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah Pendidikan Kewaarganegaraan dimana pendidikan ini merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Source:
Lemhannas, Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,  2001.
http://azisgr.blogspot.com/2010/05/pendidikan-kewarganegaraan-pkn.html

Kamis, 31 Januari 2013

Manajemen Pemuda untuk Pembangunan Indonesia



Pemuda merupakan sosok yang terus mengalami perubahan baik dari segi pemikiran maupun pengendalian emosi. Apabila di kelola dengan baik, pemuda bisa menjadi suatu aset berharga yang mampu membawa suatu bangsa dalam suatu perubahan besar. Hal tersebut dikarenakan pemuda memiliki karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju dan memiliki moralitas. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah pengendalian emosi yang masih rendah, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural, bahkan pemuda menjadi pelopor perubahan itu sendiri.
Pemuda adalah generasi yang akan menggantikan estafet kepemimpinan sebuah generasi terdahulu baik dalam keluarga, kelompok, organisasi, bangsa dan negara. Pemuda merupakan harapan bangsa dan di tangan pemuda dipertaruhkan masa depan bangsa. Disamping itu, penilaian kualitas dan perkembangan suatu bangsa tergantung pada pemuda yang ada di dalamnya. Apabila pemuda di suatu bangsa itu baik maka bangsa tersebut mampu menjadi bangsa yang maju dan beradab.
Namun sejauh ini, peran pemuda dalam mengambil alih kepemimpinan di Indonesia masih tergolong kecil. Ada dua hal yang menjadi penyebab dari kecilnya peran pemuda dalam kepemimpinan di Indonesia. Dua hal tersebut adalah kurangnya kesempatan bagi pemuda untuk mengambil alih kepemimpinan dan kurangnya kecakapan pemuda untuk menjadi seorang pemimpin.
Kesempatan
Indonesia memiliki banyak pemuda yang berpotensi mampu membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Tetapi para pemuda tersebut masih belum bisa berperan dalam mengambil alih kepemimpinan. Dalam hal ini, sangat disayangkan jika para pemuda Indonesia yang memiliki potensi dan memiliki ide-ide baru untuk membuat perubahan tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Posisi kepemimpinan strategis yang mampu membawa perubahan umumnya masih diisi oleh golongan tua yang semangat untuk membangun peradabannya sudah mulai meluntur. Di sinilah peran pemuda Indonesia yang diharapkan mampu memberikan ide-ide baru dan revolusioner dalam membuat suatu perubahan bangsa Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Kecakapan
Selain karena kurangnya kesempatan bagi pemuda untuk mendapatkan posisi sebagai pemimpin di pemerintahan Indonesia, penyebab dari kecilnya peran pemuda dalam kepemimpinan di Indonesia adalah kurangnya pemuda yang memiliki kecakapan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal tersebut juga menjadi masalah yang dihadapi oleh Indonesia.
Seseorang yang pandai secara pengetahuan belum tentu pandai dalam mengatur sebuah organisasi. Diperlukan adanya soft skill agar seseorang mapu mengatur sebuah organisasi. Soft skill merupakan kemampuan  yang tidak bisa didapat dari sebuah pendidikan formal atau sekedar pelatihan, tetapi soft skill diperoleh dari pengalaman terjun langsung ke lapangan.
Dengan pembiasaan diri terhadap suatu organisasi mulai dari tingkat yang rendah hingga tinggi akan melatih soft skill seseorang untuk memegang suatu organisasinya sendiri dan berujung pada kemampuan menjadi pemimpin di kepemerintahan Indonesia.
Manajemen Pemuda
Kedua masalah tersebut saling berkaitan. Apabila faktor generasi tua yang tidak mau mengalah untuk memberi kesempatan kepada generasi muda untuk menjadi pemimpin diabaikan, maka yang menjadi inti dari permasalahan tersebut adalah kurangnya kecakapan pemuda untuk mengelola sebuah organisasi atau untuk menjadi seorang pemimpin. Kecakapan atau soft skill yang dimaksud disini adalah kemampuan seseorang untuk mengatur, mengelola dan memanfaatkan segala sumber daya baik itu manusia maupun alam agar bisa mensejahterakan kehidupan masyarakat. Kecakapan ini tidak bisa dimiliki secara instan. Diperlukan proses pemikiran dan tindakan yang berkesinambungan agar seseorang terlatih soft skill kepemimpinannya.
Ada banyak cara untuk melatih soft skill kepemimpinan tersebut. Diantaranya adalah dengan mengikuti sebuah organisasi. Di dalam organisasi, seseorang dituntut untuk berperan aktif untuk kemajuan dan ketercapaian tujuan dari organisasi tersebut. Jika para pemuda Indonesia memiliki soft skill kepemimpinan yang baik, maka kepemimpinan di Indonesia akan lebih baik. Di tangan pemuda yang memiliki semangat tinggi untuk membangun peradaban serta ide-ide baru yang revolusioner, pembangunan peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik dan maju pasti dapat terwujud dengan baik.
Selain dengan peran aktif dari pemuda, pemerintah juga dituntut untuk mendorong pemuda agar bergerak untuk pembekalan dirinya. Salah satu bentuk dorongan dari pemerintah adalah dengan mengadakan program pengembangan pemuda yang menjadi sarana bagi pemuda untuk berkarya dan menunjukan segala potensinya. Dalam hal ini akan terjalin sebuah manajemen pemuda yang dilakukan oleh pemerintah dimana terdapat peran aktif dari pemerintah untuk mengusahakan agar pemuda bersikaf aktif untuk melatih soft skillnya. Manajemen pemuda yang dilakukan pemerintah meliputi program pengembangan pemuda yang dilakukan oleh pemerintah dan pembukaan kesempatan kepada pemuda untuk mengisi posisi pemimpin dalam kepemerintahan di Indonesia. Jika manejemen ini dijalankan dengan baik, maka para pemuda yang potensial dari segala penjuru di Indonesia dapat dirangkul dan akan berdampak pada kemajuan peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik dan maju.

Alfi Riyandi Putra
Jurusan Statistika FMIPA UII Yogyakarta
Peraih Beasiswa Unggulan Kemdiknas

Senin, 13 Agustus 2012

Mengapa Kebanyakan Penghuni Neraka Adalah Wanita?


أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, disebabkan mereka kufur“. Ditanyakan: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau bersabda: “Mereka kufur kepada suami, kufur terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu“.

 Takhrij Hadits
  1. Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab kufranil-’asyir no. 29; kitab abwabil-kusuf bab shalatil-kusuf jama’atan no. 1052; kitab an-nikah bab kufranil-’asyir wa huwaz-zauj no. 5197
  2. Shahih Muslim kitab al-kusuf bab ma ‘uridla ‘alan-Nabi fi shalatil-kusuf no. 2147
  3. Sunan an-Nasa`i kitab al-kusuf bab qadril-qira`ah fi shalatil-kusuf no. 1493
  4. Musnad Ahmad bab hadits ‘Abdillah ibn ‘Abbas no. 2711, 3374,

Terdapat 29 perkara yang menyebabkan wanita banyak masuk neraka. Perkara-perkara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Durhaka terhadap suami.
  2. Tidak diridhoi suami.
  3. Mengorek aib suami.
  4. Menyukai lelaki lain padahal sudah bersuami.
  5. Mengadu domba orang lain yang bersuami-istri.
  6. Ridho berkumpul dengan suami ketika haid.
  7. Riya akan kecantikan diri.
  8. Membuka aurat.
  9. Meniru wanita kafir, baik penampilan maupun tingkah laku.
  10. Menyemir rambut.
  11. Menyambung rambut(hair extension).
  12. Mencabut atau memotong alis.
  13. Merubah bentuk wajah dan tubuh.
  14. Berkuku panjang.
  15. Sering mengeluh.
  16. Riya akan berbagai hal.
  17. Kikir.
  18. Mengolok-olok orang lain.
  19. Berbohong.
  20. Memaki-maki.
  21. Durhaka terhadap orang tua dan orang lain.
  22. Memutus tali silaturahmi.
  23. Menghasut.
  24. Bepergian jauh sendirian.
  25. Berzina.
  26. Meremehkan sholat.
  27. Suka bermain sihir/dukun.
  28. Mencela takdir.
  29. Membersihkan sesuatu tetapi tidak bersh(mencakup segala aspek kehidupan terutama makanan).

Adapun perkara yang dapat dilakukan seorang wanita agar bisa masuk surga adalah sebagai berikut:
  1. Sholat.
  2. Puasa di Bulan Ramadhan.
  3. Ta’at kepada suami.
  4. Menjaga “kehormatan”.

Rabu, 15 Februari 2012

Pagan Abad Millenium Part 2


Satu hal yang jarang diketahui umum, gerakan paganis Yahudi yang juga disebut sebagai kaum Talmudian ini merupakan gerakan untuk menghancurkan semua agama langit. Taurat Musa mereka ganti dengan Talmud; Ajaran Nabi Isa a.s. dikotori dengan tangan Paulus, Yahudi dari Tarsus; dan ke dalam Islam mereka menyusupkan Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman yang mengaku-aku sebagai pembela keluarga Ali r.a. dan mengajarkan pengikutnya agar hanya mencintai Ali r.a. dan mengecam ketiga sahabat Nabi SAW lainnya seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., dan Ustman bin Affan r.a.

Mereka ini memiliki dendam kesumat terhadap Gereja yang telah menumpas para tetua mereka pada tahun 1307. Sebab itu mereka berupaya agar Gereja bisa ditundukkan dan menjadi pelayan kepentingan mereka. Salah satu bukti adalah surat balasan dari Rabi Yahudi di Konstantinopel kepada warga Yahudi yang tinggal di Arles, Perancis, yang menyatakan, “Jadilah kamu pemeluk Kristen, namun tetaplah pelihara Talmud di dalam hatimu. Agar kamu bisa menghancurkan mereka dari dalam…”

Konspirasi mereka tetap berjalan dengan penuh kerahasiaan. Satu persatu negeri-negeri besar jatuh dalam cengkeraman mereka. Dari daratan Eropa, mereka menjangkau Amerika, dan juga seluruh dunia. Sejarah dunia yang kita kenal sekarang merupakan hasil kerja mereka. Hanya saja, sejarah resmi tidak pernah mencatat bahwa semua ini merupakan hasil dari kerja keras mereka, karena industri penulisan dunia pun dimiliki oleh jaringan mereka.

Peperangan atau konflik berskala luas merupakan ‘barang mainan’ kaum Konspirasi sejak lama. Berbagai revolusi besar dunia seperti revolusi Inggris dan Perancis, memang sengaja dirancang oleh mereka. Bahkan banyak literatur menyatakan jika Jenderal Albert Pike, seorang Jenderal AS dalam Perang Saudara yang gemar dengan segala sesuatu yang bersifat mistis, jauh-jauh hari telah merancang skenario perang dunia sampai tahap Perang Dunia II yang dirancangnya terjadi di abad millennium ketiga ini.

Memasuki abad ke-21, setelah menggelar Konferensi Zionis Internasional I di Basel, Swiss, pada tahun 1897, yang mengesahkan Protocolat Zionis sebagai agenda bersama gerakan Konspirasi untuk menguasai dunia. Emas dan propaganda merupakan dua komponen utama yang dipergunakan sebagai senjata kelompok ini.

Nyaris seluruh Eropa telah berada dalam cengkeraman kuku-kuku mereka. Demikian pula dengan Amerika Serikat. Namun mereka menghendaki agar Eropa bisa didesain ulang sesuai dengan kepentingan mereka, yakni Eropa yang tidak bersatu dan penuh konflik di dalamnya. Sebab itu, pecahlah Perang Dunia I yang disusul pula dengan Perang Dunia II. Kedua perang besar dengan korban puluhan juta nyawa manusia ini diangap berhasil guna mendesain ulang peta politik dan perekonomian dunia.

Pasca Perang Dunia II, mesin propaganda Konspirasi menanamkan kepada otak seluruh manusia—terutama Barat—bahwa bangsa Yahudi telah dibuat begitu menderita dalam perang tersebut dengan terjadinya upaya pembasmian etnis Yahudi yang dilakukan Nazi Jerman. Tragedi Holokous dijadikan berhala baru dalam peta politik dunia di mana tidak seorang pun boleh mempertanyakan keabsahannya. “Dengan adanya mitos holokous ini, Barat yang dibuat merasa begitu berdosa diperas habis-habisan oleh kekuatan ini, ” demikian Prof. Norman G. Finkelstein dalam bukunya “The Holocoust Industry”.

Bangsa Yahudi pun telah berhasil mendirikan “Negara” di atas tanah milik bangsa Palestina dengan dukungan lobi politik Negara-negara Barat.

Guna melicinkan jalan menguasai dunia, maka Konspirasi mendirikan sebuah badan super power yang seluruh kebijakannya berada dan berlaku di atas kebijakan negara-negara yang ada yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations). PBB didirikan di San Francisco, AS, pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di Washington, DC. Sidang Umum yang pertama, dihadiri wakil dari 51 negara, berlangsung pada 10 Januari 1946 di London. Sebelumnya PBB ini bernama Liga Bangsa-Bangsa.

Badan Internasional ini diperlengkapi dengan lembaga-lembaga di bawahnya yang mencakup hampir semua bidang kehidupan manusia di bumi ini, seperti kesehatan (WHO), pangan (FAO), perbankan atau perekonomian (World Bank dan IMF), dan sebagainya. Sesungguhnya, PBB ini merupakan satu rintisan ke arah tatanan dunia baru yang menghendaki adanya satu super pemerintahan yang berhak mengatur negara-negara lainnya.

Dalam perjalanannya, PBB terbukti menjadi alat bagi kepentingan imperialisme Barat terhadap negeri-negeri selatan. Dalam segala hal, PBB senantiasa mengambil kebijakan yang menguntungkan kaum Konspirasi. Jika pun ada resolusi yang keluar bagi Israel, misalnya, maka hal tersebut hanyalah sebuah resolusi di atas kertas yang tidak memiliki dampak apa pun terhadap Israel. Namun jika ada satu saja resolusi PBB bagi negeri-negeri Islam, maka resolusi itu wajib dipatuhi dan dilaksanakan, bahkan jika perlu dengan ancaman senjata dari negara besar seperti AS dan sekutunya.