Kamis, 24 Oktober 2013

Somebody that I Used to Know

Pernah ada seseorang yang mampu menjadi sosok yang kuat.
Teman. Saudara. Kakak.
Teman di kala luka.
Saudara yang mengerti.
Kakak yang melindungi.

Namun kehidupan telah berubah.
Tak selamanya jembatan mampu menghubungkan dua tebing.
Ada saatnya dimana dua tebing akan kembali terpisah.
Dan hanya bisa saling menatap dari kejauhan.

Sulit memang melewati masa-masa itu.
Tapi...
Mungkin, begini memang lebih baik.
Tanpa ada ketergantungan dan tegar pada pribadi masing-masing.

My Judas

Selasa, 10 September 2013

Beautips : Ujung Kuku yang Putih Bersih

Apakah Anda menginginkan kuku putih dan bersih seperti gambar berikut?
Jika jawabannya "ya" maka Anda datang ke blog yang benar.
Banyak jalan menuju Roma, maka banyak cara pula untuk mendapatkan kuku putih nan bersih tersebut.
Memiliki kuku yang "putih" dan "bersih", artinya terdapat dua kondisi yang harus dipenuhi yaitu "putih" dan "bersih". Bisa saja kuku Anda menjadi "putih" tetapi tidak bersih dari kutikula ataupun noda lainnya, bisa pula kuku anda "bersih" tetapi warna kuku agak menguning atau bahkan menghitam.
Baiklah, syarat pertama yang harus dipenuhi adalah aspek "kebersihan". Kebersihan kuku meliputi keindahan bentuk kuku, kebersihan bawah kuku, kepanjangan kuku dan kilau permukaan kuku. Aspek kebersihan kuku dapat dipenuhi dengan perawatan standar dengan alat manicure yang anda miliki.
Permasalahan yang muncul adalah aspek "keputihan" ujung kuku. Aspek ini sangat sulit untuk dipenuhi karena:
1. Ujung kuku yang panjang menjadi sarang "kotoran" yang merusak pemandangan.
2. Kuku yang sudah tua secara alami akan menguning.
3. Kuku yang tidak sehay/rusak warnanya tidak putih.
4. Dari sejumlah manusia di muka bumi, pasti terdapat beberapa manusia dengan gen kuku bukan putih.
Untuk mendapatkan ujung kuku yang berwarna putih bersih, berikut adalah tipsnya. (harap perhatikan tingkat ekstrimnya, sesuaikan dengan kemampuan Anda.)

Level 1 : Membersihkan kuku ala kadarnya dengan mengorek kotoran pada bagian bawah kuku.
Pemutihan tipe level satu WAJIb dilaksanakan.

Level 2 : Menggunakan nail polish putih.
Ini merupakan cara memutihkan ujung kuku paling klise namun mujarab.

Level 3 : Menggunakan nail pencil.
Langkah ini merupakan alternatif untuk memutihkan kuku tanpa menggunakan cat kuku. nail pencil mungkin terlihat seperti white pencil eyeliner ataupun white pencil eyeshadow, tetapi mereka terbuat dari bahan yang berbeda. Cara menggunakannya mudah, cukup digores-goreskan ke bawah kuku hingga ujung kuku terkihat putih. Berikut contoh nail pencil merk Oriflame:


Level 9 : Menggunakan Luna pencil color warna putih.
Langkah ini dinilai ekstrim sehingga langsung melompat ke level 9. Penggunaan pencil color tidak ada bedanya dengan nail pencil, tetapi bahan pembuatnya berbeda. dikhawatirkan terjadi alergi pada beberapa jenid kulit sensitif. Pensil warna gambar yang dipilih adalah merk Luna karena pensil warna ini watercolor yg lunak dan luntur terhadap air sehingga penggunaannya bisa fleksible. Anda bisa saja bereksperimen dengan warna-warna yang lain, mungkin akan terlihat indah. Berikut adalah gambarnya:

Level 15 : Menggunakan pemutih pakaian.
Langkah ini lebih ekstrim karena dianggap sebagai cara yang tidak wajar. Pemutihan dengan cara ini memberikan hasil yang bagus. Pemutihan dengan pemutih pakaian bisa dilakukan pada pemutih pakaian yang diencerkan ataupun pemutih pakaian murni.

Level 23 : Menggunakan bleaching rambut.
Sejauh ini pemutihan menggunakan merupakan level tertinggi dari metode pemutihan ujung kuku yang pernah ada. Hasil yang diberikan sangat memuaskan bahkan juga berpengaruh pada permukaan kuku. Langkah ini dinilai sebagai langkah paling berbahaya karena unsur kimia "perontok" pigmen keratin memberikan dampak buruk pada kulit. But, beauty is pain. Take it!!

Sabtu, 11 Mei 2013

Poenix: Prayer of An Ash

God, today I’ve decided to burn my self
I have tried to spread my wings
I flew away but the skies limited me
Finnally I decide to sleep on the fire

God, tonight I am an ash
I can do nothing
I have done what I can do
Im praying for miracle

God, tomorrow is the judgement day
I have no possesion but doing mine
Please give me a miracle and set me
Turn me as a new
Reborn me from my ash
The stronger and fairer than before

Rabu, 20 Maret 2013

Apakah itu Kue?

Mungkin hanya sebagian dari manusia yang pernah memikirkan tentang kue secara hakikat keberadaannya. Berikut beberapa pemikiran tentang kue yang mungkin mampu membuka pemikiran-pemikiran baru tentang kue itu sendiri.
  1. Sebuah kue dipotong 4, kemudian dipisahkan satu sama lain. Apakah kue-kue yang terpisah itu masih disebut kue? Atau potongan-potongan kue?
  2. Seandainya kue memiliki sistem saraf, apakah kue akan bergerak-gerak ketika dipotong?
  3. Meski terbuat dari bahan yang sama persis, ketika suatu adonan dimasak dengan beberapa cara yang berbeda maka akan menghasilkan beberapa kue yang berbeda pula.
  4. Kue identik dengan rasa manis, maka akan terasa aneh jika ada daging ayam di dalam sebuah kue, apalagi jika kue itu tetap terasa manis.
  5. Ketika rainbow cake direndam di dalam air, maka warna airnya akan berubah menjadi berwarna-warni dan berakhir menjadi warna hitam kecoklatan.
  6. Tidak ada kue yang berwarna benar-benar putih dan tidak ada kue yang berwarna benar-benar hitam.

Sesungguhnya hal-hal yang terjadi pada kue di atas merupakan kalimat-kalimat ambigu. Semoga Anda cukup bijak untuk memaknainya.

Membahasakan Angka: 1 / ¼ = ¼



Secara matematis, 1 / ¼ memiliki nilai yang berbeda dengan  ¼. Berdasarkan perhitungan, 1 / ¼ = 4, sedangkan  ¼ = 0,25. Namun jika diperhatikan lebih mendalam, kedua bilangan tersebut berjumlah sama. 

Untuk lebih mudahnya, perhatikan simulasi berikut:

Kasus 1: Terdapat sebuah kue besar, ketika kue tersebut dipotong sedemikian hingga setiap bagiannya berukuran seperempat dari ukuran semula, maka akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.

Kasus 2: Terdapat sebuah kue besar,kemudian kue tersebut dipotong menjadi 4 bagian. Akhirnya akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.

Berdasarkan kedua kasus diatas, keduanya memiliki perhitungan matematis yang berbeda namun menghasilkan jumlah objek yang sama. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa 1 / ¼ = ¼.

Selasa, 19 Maret 2013

Membahasakan Angka: Teori Fungsi Relatif Kata “Berapa” dan “Beberapa”


Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, “berapa” memiliki makna sebagai kata tanya untuk menanyakan bilangan yg mewakili jumlah, ukuran, nilai, harga, satuan, waktu. Sedangkan kata “beberapa” memiliki makna sebagai jumlah yg tidak tentu banyaknya (bilangan lebih dari dua, tetapi tidak banyak. Kedua kata tersebut memiliki kesamaan yakni berhubungan dengan jumlah, tetapi berbeda tentang bentuk dan fungsinya. Kata “berapa” berfungsi sebagai kata tanya jumlah dan kata “beberapa” berfungsi sebagai kata keterangan jumlah yang abstrak.


Namun ketika dicermati lebih mendalam, kedua kata tersebut akan memiliki fungsi yang sama pada suatu konteks kalimat tertentu. Kata “berapa” yang merupakan kata tanya jumlah dapat difungsikan sebagai kata keterangan jumlah selayaknya kata “beberapa” pada konteks kalimat yang sama. Sebagai contoh untuk memudahkan teori ini, perhatikanlah dialog di bawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama beberapa hari.


Dalam dialaog diatas, kata “beberapa” berfungsi untuk menunjukan keterangan jumlah hari yang lebih dari dua tetapi tidak banyak. Apabila dalam dialaog diatas, kata “beberapa” diasumsikan sebagai “4 hari”, maka kata “beberapa” dalam dialog diatas bisa diganti dengan kata “berapa”. Penjelasan lebih lanjut perhatikan contoh di bawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 hari.


Secara matematis, hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 ditulis dengan 25 – 1 yang hasilnya sama dengan 4, dimana sebelumnya 4 diasumsikan sebagai kata “beberapa”.



Adapun perubahan fungsi kata “berapa” menjadi kata keterangan jumlah terletak pada respon normal seseorang ketika dihadapkan pada pernyataan asumsi matematis yakni “hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1”. Perhatikan simulasi dibawah ini:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1 hari.


A : Berapa? (mengacu pada pernyataan “hasil dari akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1”).


Pertanyaan “Berapa?” yang menjadi respon normal tersebut selalu identik dengan pernyataan asumsi matematis yang diucapkan sebelumnya. Sehingga, asumsi matematis dapat diganti dengan kalimat “berapa”. Hasil akhir dari perubahan fungsi kata ini adalah sebagai berikut:


A : Apakah uang seratus ribu ini milikmu?


B : Ya, itu untuk menopang hidupku selama berapa hari.


Contoh lain dari penggunaan fungsi relatif kata adalah sebagai berikut:


A : Sudah berapa hari aku tidak bertemu denganmu. (kata berapa hari bisa mengacu pada asumsi matematis 21/7 hari)

Minggu, 17 Maret 2013

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan


Bangsa Indonesia memiliki sejarah perjuangan yang panjang mulai dari era sebelum dan selama penjajahan, era mempertahankan kemerdekaan hingga era mengisi kemerdekaan. Setiap era memilikki kondisi dan tuntutan yang berbeda namun dapat dipenuhi dengan adanya kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat kebangsaan. 

Semangat perjuangan bangsa merupakan kekuatan mental yang mampu melahirkan sikap dan tindakan heroik dan ptriotik serta menumbuhkan kekuatan, kesanggupan dan kemauan yang luar biasa. Selain itu, semangat perjuangan bangsa digunakan sebagai acuan dalam memecahkan permasalahan dalam bermasyarakat, berbangasa dan bernegara. Semangat perjuangan bangsa ini harus dimiliki oleh setiap warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seiring perjalanan waktu dan modernisasi segala aspek kehidupan, semangat perjuanagn bangsa sedikit demi sedikit terus terkikis. Globalisasi yang identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang transportasi, komunikasi, serta akses informasi yang cepat dan tanpa batas membuat dunia menjadi satu. Segala bentuk pengaruh lembaga internasional beserta sistem politik, hukum, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan dunia dapat diserap dengan mudah oleh masyarakat Indonesia. Kondisi tersebu takan berpengaruh pada pola pikir, sikap, dan tindakan masyarakat Indonesia yang kemudian hal tersebut akan berpengaruh pula pada struktur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya kondisi tersebut akan mengubah semangat perjuangan bangsa.

Semangat perjuangan bangsa pada era penjajahan telah menghasilkan perjuangan fisik yang luar biasa dalam menghadapi negara penjajah yang datang ke Indonesia. Di era globalisasi, semangat perjuanagan bangsa idealnya menghasilkan perjuangan non-fisik atau bersifat mental dimana setiap orang memililki kesadaran untuk membatasi diri dari pengaruh buruk globalisasi dan tetap melestarikan kesadaran bernegara serta bersikap cinta tanah air.

Jika perjuangan fisik dilakukan dengan melawan penjajah, maka perjuangan non-fisik dilakukan sesuai dengan porsi dan profesi masing-masing dari setiap rakyat Indonesia. Perjuangan non-fisik yang dilakukan sesuai dengan bidang profesi masing-masing memerlukan sarana kegiatan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah Pendidikan Kewaarganegaraan dimana pendidikan ini merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Source:
Lemhannas, Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,  2001.
http://azisgr.blogspot.com/2010/05/pendidikan-kewarganegaraan-pkn.html