Apakah Anda menginginkan kuku putih dan bersih seperti gambar berikut?
Jika jawabannya "ya" maka Anda datang ke blog yang benar.
Banyak jalan menuju Roma, maka banyak cara pula untuk mendapatkan kuku putih nan bersih tersebut.
Memiliki kuku yang "putih" dan "bersih", artinya terdapat dua kondisi yang harus dipenuhi yaitu "putih" dan "bersih". Bisa saja kuku Anda menjadi "putih" tetapi tidak bersih dari kutikula ataupun noda lainnya, bisa pula kuku anda "bersih" tetapi warna kuku agak menguning atau bahkan menghitam.
Baiklah, syarat pertama yang harus dipenuhi adalah aspek "kebersihan". Kebersihan kuku meliputi keindahan bentuk kuku, kebersihan bawah kuku, kepanjangan kuku dan kilau permukaan kuku. Aspek kebersihan kuku dapat dipenuhi dengan perawatan standar dengan alat manicure yang anda miliki.
Permasalahan yang muncul adalah aspek "keputihan" ujung kuku. Aspek ini sangat sulit untuk dipenuhi karena:
1. Ujung kuku yang panjang menjadi sarang "kotoran" yang merusak pemandangan.
2. Kuku yang sudah tua secara alami akan menguning.
3. Kuku yang tidak sehay/rusak warnanya tidak putih.
4. Dari sejumlah manusia di muka bumi, pasti terdapat beberapa manusia dengan gen kuku bukan putih.
Untuk mendapatkan ujung kuku yang berwarna putih bersih, berikut adalah tipsnya. (harap perhatikan tingkat ekstrimnya, sesuaikan dengan kemampuan Anda.)
Level 1 : Membersihkan kuku ala kadarnya dengan mengorek kotoran pada bagian bawah kuku.
Pemutihan tipe level satu WAJIb dilaksanakan.
Level 2 : Menggunakan nail polish putih.
Ini merupakan cara memutihkan ujung kuku paling klise namun mujarab.
Level 3 : Menggunakan nail pencil.
Langkah ini merupakan alternatif untuk memutihkan kuku tanpa menggunakan cat kuku. nail pencil mungkin terlihat seperti white pencil eyeliner ataupun white pencil eyeshadow, tetapi mereka terbuat dari bahan yang berbeda. Cara menggunakannya mudah, cukup digores-goreskan ke bawah kuku hingga ujung kuku terkihat putih. Berikut contoh nail pencil merk Oriflame:
Level 9 : Menggunakan Luna pencil color warna putih.
Langkah ini dinilai ekstrim sehingga langsung melompat ke level 9. Penggunaan pencil color tidak ada bedanya dengan nail pencil, tetapi bahan pembuatnya berbeda. dikhawatirkan terjadi alergi pada beberapa jenid kulit sensitif. Pensil warna gambar yang dipilih adalah merk Luna karena pensil warna ini watercolor yg lunak dan luntur terhadap air sehingga penggunaannya bisa fleksible. Anda bisa saja bereksperimen dengan warna-warna yang lain, mungkin akan terlihat indah. Berikut adalah gambarnya:
Level 15 : Menggunakan pemutih pakaian.
Langkah ini lebih ekstrim karena dianggap sebagai cara yang tidak wajar. Pemutihan dengan cara ini memberikan hasil yang bagus. Pemutihan dengan pemutih pakaian bisa dilakukan pada pemutih pakaian yang diencerkan ataupun pemutih pakaian murni.
Level 23 : Menggunakan bleaching rambut.
Sejauh ini pemutihan menggunakan merupakan level tertinggi dari metode pemutihan ujung kuku yang pernah ada. Hasil yang diberikan sangat memuaskan bahkan juga berpengaruh pada permukaan kuku. Langkah ini dinilai sebagai langkah paling berbahaya karena unsur kimia "perontok" pigmen keratin memberikan dampak buruk pada kulit. But, beauty is pain. Take it!!
Selasa, 10 September 2013
Sabtu, 11 Mei 2013
Poenix: Prayer of An Ash
God, today I’ve decided to burn my self
I have tried to spread my wings
I flew away but the skies limited me
Finnally I decide to sleep on the fire
God, tonight I am an ash
I can do nothing
I have done what I can do
Im praying for miracle
God, tomorrow is the judgement day
I have no possesion but doing mine
Please give me a miracle and set me
Turn me as a new
Reborn me from my ash
The stronger and fairer than before
Rabu, 20 Maret 2013
Apakah itu Kue?
Mungkin hanya sebagian dari manusia yang pernah memikirkan tentang kue secara hakikat keberadaannya. Berikut beberapa pemikiran tentang kue yang mungkin mampu membuka pemikiran-pemikiran baru tentang kue itu sendiri.
Sesungguhnya hal-hal yang terjadi pada kue di atas merupakan kalimat-kalimat ambigu. Semoga Anda cukup bijak untuk memaknainya.
- Sebuah kue dipotong 4, kemudian dipisahkan satu sama lain. Apakah kue-kue yang terpisah itu masih disebut kue? Atau potongan-potongan kue?
- Seandainya kue memiliki sistem saraf, apakah kue akan bergerak-gerak ketika dipotong?
- Meski terbuat dari bahan yang sama persis, ketika suatu adonan dimasak dengan beberapa cara yang berbeda maka akan menghasilkan beberapa kue yang berbeda pula.
- Kue identik dengan rasa manis, maka akan terasa aneh jika ada daging ayam di dalam sebuah kue, apalagi jika kue itu tetap terasa manis.
- Ketika rainbow cake direndam di dalam air, maka warna airnya akan berubah menjadi berwarna-warni dan berakhir menjadi warna hitam kecoklatan.
- Tidak ada kue yang berwarna benar-benar putih dan tidak ada kue yang berwarna benar-benar hitam.
Sesungguhnya hal-hal yang terjadi pada kue di atas merupakan kalimat-kalimat ambigu. Semoga Anda cukup bijak untuk memaknainya.
Membahasakan Angka: 1 / ¼ = ¼
Secara matematis, 1 / ¼ memiliki nilai yang berbeda dengan ¼. Berdasarkan perhitungan, 1 / ¼ = 4,
sedangkan ¼ = 0,25. Namun jika diperhatikan
lebih mendalam, kedua bilangan tersebut berjumlah sama.
Untuk lebih mudahnya,
perhatikan simulasi berikut:
Kasus 1: Terdapat sebuah kue besar, ketika kue tersebut dipotong
sedemikian hingga setiap bagiannya berukuran seperempat dari ukuran semula,
maka akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.
Kasus 2: Terdapat sebuah kue besar,kemudian kue tersebut dipotong
menjadi 4 bagian. Akhirnya akan didapatkan 4 buah kue yang lebih kecil.
Berdasarkan kedua kasus diatas, keduanya
memiliki perhitungan matematis yang berbeda namun menghasilkan jumlah objek
yang sama. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa 1 / ¼ = ¼.
Selasa, 19 Maret 2013
Membahasakan Angka: Teori Fungsi Relatif Kata “Berapa” dan “Beberapa”
Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, “berapa”
memiliki makna sebagai kata tanya untuk menanyakan bilangan yg
mewakili jumlah, ukuran, nilai, harga, satuan, waktu. Sedangkan kata “beberapa”
memiliki makna sebagai jumlah yg tidak tentu banyaknya (bilangan lebih dari
dua, tetapi tidak banyak. Kedua kata tersebut memiliki kesamaan yakni
berhubungan dengan jumlah, tetapi berbeda tentang bentuk dan fungsinya. Kata “berapa”
berfungsi sebagai kata tanya jumlah dan kata “beberapa” berfungsi sebagai kata
keterangan jumlah yang abstrak.
Namun ketika dicermati lebih mendalam, kedua
kata tersebut akan memiliki fungsi yang sama pada suatu konteks kalimat
tertentu. Kata “berapa” yang merupakan kata tanya jumlah dapat difungsikan sebagai
kata keterangan jumlah selayaknya kata “beberapa” pada konteks kalimat yang
sama. Sebagai contoh untuk memudahkan teori ini, perhatikanlah dialog di bawah
ini:
A
: Apakah uang seratus ribu ini milikmu?
B
: Ya, itu untuk menopang hidupku selama beberapa
hari.
Dalam dialaog diatas, kata “beberapa” berfungsi
untuk menunjukan keterangan jumlah hari yang lebih dari dua tetapi tidak
banyak. Apabila dalam dialaog diatas, kata “beberapa” diasumsikan sebagai “4
hari”, maka kata “beberapa”
dalam dialog diatas bisa diganti dengan kata “berapa”. Penjelasan lebih lanjut perhatikan contoh di bawah ini:
A
: Apakah uang seratus ribu ini milikmu?
B
: Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil
dari akar kuadrat dari 25 yang
dikurangi 1 hari.
Secara matematis, hasil
dari
akar kuadrat dari 25 yang dikurangi 1
ditulis dengan √25 – 1 yang hasilnya sama
dengan 4, dimana sebelumnya 4 diasumsikan sebagai kata “beberapa”.
Adapun perubahan fungsi kata “berapa” menjadi
kata keterangan jumlah terletak pada respon normal seseorang ketika dihadapkan
pada pernyataan asumsi matematis yakni “hasil
dari akar kuadrat dari 25 yang
dikurangi 1”. Perhatikan simulasi dibawah ini:
A
: Apakah uang seratus ribu ini milikmu?
B
: Ya, itu untuk menopang hidupku selama hasil
dari akar kuadrat dari 25 yang
dikurangi 1 hari.
A
: Berapa? (mengacu pada pernyataan “hasil
dari akar kuadrat dari 25 yang
dikurangi 1”).
Pertanyaan “Berapa?” yang menjadi respon
normal tersebut selalu identik dengan pernyataan asumsi matematis yang diucapkan
sebelumnya. Sehingga, asumsi matematis dapat diganti dengan kalimat “berapa”. Hasil
akhir dari perubahan fungsi kata ini adalah sebagai berikut:
A
: Apakah uang seratus ribu ini milikmu?
B
: Ya, itu untuk menopang hidupku selama berapa
hari.
Contoh lain dari penggunaan fungsi relatif
kata adalah sebagai berikut:
A
: Sudah berapa hari aku tidak
bertemu denganmu. (kata berapa hari bisa
mengacu pada asumsi matematis 21/7 hari)
Minggu, 17 Maret 2013
Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Bangsa Indonesia memiliki sejarah
perjuangan yang panjang mulai dari era sebelum dan selama penjajahan, era mempertahankan kemerdekaan hingga era
mengisi kemerdekaan. Setiap era memilikki kondisi dan tuntutan yang berbeda namun
dapat dipenuhi dengan adanya kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang
dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat kebangsaan.
Semangat perjuangan bangsa
merupakan kekuatan mental yang mampu melahirkan sikap dan tindakan heroik dan
ptriotik serta menumbuhkan kekuatan, kesanggupan dan kemauan yang luar biasa. Selain
itu, semangat perjuangan bangsa digunakan sebagai acuan dalam memecahkan
permasalahan dalam bermasyarakat, berbangasa dan bernegara. Semangat perjuangan
bangsa ini harus dimiliki oleh setiap warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seiring perjalanan waktu dan modernisasi segala aspek kehidupan, semangat perjuanagn bangsa sedikit demi sedikit terus terkikis. Globalisasi yang identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang transportasi, komunikasi, serta akses informasi yang cepat dan tanpa batas membuat dunia menjadi satu. Segala bentuk pengaruh lembaga internasional beserta sistem politik, hukum, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan dunia dapat diserap dengan mudah oleh masyarakat Indonesia. Kondisi tersebu takan berpengaruh pada pola pikir, sikap, dan tindakan masyarakat Indonesia yang kemudian hal tersebut akan berpengaruh pula pada struktur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya kondisi tersebut akan mengubah semangat perjuangan bangsa.
Semangat perjuangan bangsa pada era penjajahan telah menghasilkan perjuangan fisik yang luar biasa dalam menghadapi negara penjajah yang datang ke Indonesia. Di era globalisasi, semangat perjuanagan bangsa idealnya menghasilkan perjuangan non-fisik atau bersifat mental dimana setiap orang memililki kesadaran untuk membatasi diri dari pengaruh buruk globalisasi dan tetap melestarikan kesadaran bernegara serta bersikap cinta tanah air.
Jika perjuangan fisik dilakukan dengan melawan penjajah, maka perjuangan non-fisik dilakukan sesuai dengan porsi dan profesi masing-masing dari setiap rakyat Indonesia. Perjuangan non-fisik yang dilakukan sesuai dengan bidang profesi masing-masing memerlukan sarana kegiatan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah Pendidikan Kewaarganegaraan dimana pendidikan ini merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Source:
Lemhannas, Pendidikan
Kewarganegaraan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
http://azisgr.blogspot.com/2010/05/pendidikan-kewarganegaraan-pkn.html
Kamis, 31 Januari 2013
Manajemen Pemuda untuk Pembangunan Indonesia
Pemuda merupakan sosok yang terus mengalami
perubahan baik dari segi pemikiran maupun pengendalian emosi. Apabila di kelola
dengan baik, pemuda bisa menjadi suatu aset berharga yang mampu membawa suatu
bangsa dalam suatu perubahan besar. Hal tersebut dikarenakan pemuda memiliki
karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju dan
memiliki moralitas. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah pengendalian
emosi yang masih rendah, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah
mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural, bahkan
pemuda menjadi pelopor perubahan itu sendiri.
Pemuda adalah generasi yang akan menggantikan
estafet kepemimpinan sebuah generasi terdahulu baik dalam keluarga, kelompok,
organisasi, bangsa dan negara. Pemuda merupakan harapan bangsa dan di tangan
pemuda dipertaruhkan masa depan bangsa. Disamping itu, penilaian kualitas dan
perkembangan suatu bangsa tergantung pada pemuda yang ada di dalamnya. Apabila
pemuda di suatu bangsa itu baik maka bangsa tersebut mampu menjadi bangsa yang
maju dan beradab.
Namun sejauh ini, peran pemuda dalam mengambil alih
kepemimpinan di Indonesia masih tergolong kecil. Ada dua hal yang menjadi
penyebab dari kecilnya peran pemuda dalam kepemimpinan di Indonesia. Dua hal
tersebut adalah kurangnya kesempatan bagi pemuda untuk mengambil alih
kepemimpinan dan kurangnya kecakapan pemuda untuk menjadi seorang pemimpin.
Kesempatan
Indonesia memiliki banyak
pemuda yang berpotensi mampu membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Tetapi
para pemuda tersebut masih belum bisa berperan dalam mengambil alih
kepemimpinan. Dalam hal ini, sangat disayangkan jika para pemuda Indonesia yang
memiliki potensi dan memiliki ide-ide baru untuk membuat perubahan tidak
memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Posisi kepemimpinan strategis
yang mampu membawa perubahan umumnya masih diisi oleh golongan tua yang
semangat untuk membangun peradabannya sudah mulai meluntur. Di sinilah peran
pemuda Indonesia yang diharapkan mampu memberikan ide-ide baru dan revolusioner
dalam membuat suatu perubahan bangsa Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Kecakapan
Selain karena kurangnya
kesempatan bagi pemuda untuk mendapatkan posisi sebagai pemimpin di
pemerintahan Indonesia, penyebab dari kecilnya peran pemuda dalam kepemimpinan di Indonesia adalah kurangnya pemuda yang memiliki kecakapan untuk menjadi
seorang pemimpin. Hal tersebut juga menjadi masalah yang dihadapi oleh
Indonesia.
Seseorang yang pandai secara pengetahuan belum tentu pandai dalam mengatur sebuah
organisasi. Diperlukan adanya soft skill
agar seseorang mapu mengatur sebuah organisasi. Soft skill merupakan kemampuan
yang tidak bisa didapat dari sebuah pendidikan formal atau sekedar
pelatihan, tetapi soft skill
diperoleh dari pengalaman terjun langsung ke lapangan.
Dengan pembiasaan diri terhadap suatu organisasi
mulai dari tingkat yang rendah hingga tinggi akan melatih soft skill seseorang untuk memegang suatu organisasinya sendiri dan
berujung pada kemampuan menjadi pemimpin di kepemerintahan Indonesia.
Manajemen Pemuda
Kedua masalah tersebut saling
berkaitan. Apabila faktor generasi tua yang tidak mau mengalah untuk memberi
kesempatan kepada generasi muda untuk menjadi pemimpin diabaikan, maka yang
menjadi inti dari permasalahan tersebut adalah kurangnya kecakapan pemuda untuk
mengelola sebuah organisasi atau untuk menjadi seorang pemimpin. Kecakapan atau
soft skill yang dimaksud disini
adalah kemampuan seseorang untuk mengatur, mengelola dan memanfaatkan segala
sumber daya baik itu manusia maupun alam agar bisa mensejahterakan kehidupan
masyarakat. Kecakapan ini tidak bisa dimiliki secara instan. Diperlukan proses
pemikiran dan tindakan yang berkesinambungan agar seseorang terlatih soft skill kepemimpinannya.
Ada banyak cara untuk melatih soft skill kepemimpinan tersebut.
Diantaranya adalah dengan mengikuti sebuah organisasi. Di dalam organisasi,
seseorang dituntut untuk berperan aktif untuk kemajuan dan ketercapaian tujuan
dari organisasi tersebut. Jika para pemuda Indonesia memiliki soft skill kepemimpinan yang baik, maka
kepemimpinan di Indonesia akan lebih baik. Di tangan pemuda yang memiliki
semangat tinggi untuk membangun peradaban serta ide-ide baru yang revolusioner,
pembangunan peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik dan maju pasti dapat
terwujud dengan baik.
Selain dengan peran aktif dari
pemuda, pemerintah juga dituntut untuk mendorong pemuda agar bergerak untuk
pembekalan dirinya. Salah satu bentuk dorongan dari pemerintah adalah dengan
mengadakan program pengembangan pemuda yang menjadi sarana bagi pemuda untuk
berkarya dan menunjukan segala potensinya. Dalam hal ini akan terjalin sebuah
manajemen pemuda yang dilakukan oleh pemerintah dimana terdapat peran aktif
dari pemerintah untuk mengusahakan agar pemuda bersikaf aktif untuk melatih soft skillnya. Manajemen pemuda yang
dilakukan pemerintah meliputi program pengembangan pemuda yang dilakukan oleh
pemerintah dan pembukaan kesempatan kepada pemuda untuk mengisi posisi pemimpin
dalam kepemerintahan di Indonesia. Jika manejemen ini dijalankan dengan baik,
maka para pemuda yang potensial dari segala penjuru di Indonesia dapat
dirangkul dan akan berdampak pada kemajuan peradaban Indonesia ke arah yang
lebih baik dan maju.
Alfi Riyandi Putra
Jurusan Statistika
FMIPA UII Yogyakarta
Peraih Beasiswa
Unggulan Kemdiknas
Langganan:
Komentar (Atom)

